Menjaga Warisan Pendiri PSHT: Jejak Persaudaraan dalam Keluarga Ki Hadjar Hardjo Oetomo
OPINI
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dikenal sebagai salah satu organisasi pencak silat tertua di Indonesia. Cikal bakal organisasi tersebut dirintis oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada 1922 di Desa Pilangbango, Madiun, Jawa Timur, setelah memperoleh restu dari gurunya untuk mengembangkan ajaran Setia Hati.
Di kawasan Winongo, Kota Madiun, pada 1883 Ki Hadjar Hardjo Oetomo dilahirkan. Sebagai murid kesayangan Ki Ngabehi Soerodiwirjo, pendiri ajaran Setia Hati, beliau menerima pengesahan (kecer) pada 1917. Lima tahun kemudian, berdirilah Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC), yang dalam perjalanan waktu berkembang menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate sebagaimana dikenal hingga sekarang.
Tidak hanya mengabdikan diri sebagai pendekar, kiprah Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga mewarnai perjuangan kebangsaan. Keterlibatannya dalam Sarekat Islam dan Boedi Oetomo memperlihatkan komitmennya terhadap cita-cita kemerdekaan. Aktivitas yang dinilai membahayakan pemerintah kolonial Belanda menyebabkan beliau ditangkap pada 1925. Masa penahanan dijalani di Penjara Cipinang sebelum dipindahkan ke Padang, Sumatera Barat. Seusai memperoleh kebebasan, perguruan yang telah dirintis kembali dihidupkan dan dikembangkan. Atas dedikasinya bagi bangsa, jasa Ki Hadjar Hardjo Oetomo kemudian diakui melalui penganugerahan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada 12–13 April 1952, Ki Hadjar Hardjo Oetomo wafat. Jenazah beliau dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Pilangbango, Madiun. Keluarga yang ditinggalkan meliputi sang istri, Nyai Inem Hardjo Oetomo, beserta putra-putrinya, termasuk Pak Harsono, yang kemudian menjadi bagian penting dalam kesinambungan sejarah keluarga pendiri PSHT.
Foto keluarga yang terdokumentasi pada masa itu merekam jejak keturunan pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate. Di dalamnya tergambar kebersamaan istri, anak, menantu, hingga keponakan yang berasal dari garis keluarga Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Dokumentasi tersebut tidak sekadar menyimpan potret sebuah keluarga, melainkan juga menjadi penanda kesinambungan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam kehidupan keluarga, Pak Harsono bersama Ibu Sriatun tidak dikaruniai anak kandung. Namun, hubungan kekeluargaan dengan para keponakan tetap dipelihara dengan penuh kasih. Perhatian besar diberikan kepada Om Bambang dan Om Budi, terutama terhadap pendidikan mereka.
Pendidikan tinggi kemudian ditempuh keduanya di Universitas Gadjah Mada. Om Bambang menekuni Fakultas Pertanian, sedangkan Om Budi menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Kimia. Selepas menamatkan pendidikan, perhatian kepada Pak Harsono dan Ibu Sriatun tidak pernah berkurang. Kehidupan keduanya terus didampingi, dirawat, dan ditopang, termasuk melalui dukungan kebutuhan hidup hingga akhir hayat mereka.
Ikatan yang terbangun dalam keluarga tersebut memperlihatkan bahwa makna persaudaraan tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah semata. Kepedulian, tanggung jawab, serta pengabdian menjadi nilai yang terus diwariskan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kisah keluarga ini menjadi refleksi atas ajaran luhur Persaudaraan Setia Hati Terate yang menempatkan persaudaraan, rasa hormat, dan pengabdian sebagai landasan kehidupan. Walaupun tidak meninggalkan keturunan langsung, Pak Harsono dan Ibu Sriatun tetap menikmati kehangatan keluarga hingga penghujung usia berkat bakti yang diberikan Om Bambang dan Om Budi.
Catatan sederhana ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi sejarah keluarga sekaligus pengingat bagi generasi penerus bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan para pendahulu bukan semata sebuah nama besar, melainkan nilai-nilai persaudaraan, kepedulian, dan pengabdian yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(soeltoni/bayek)

Komentar
Posting Komentar