Dari Penampung Jalanan ke Sambungan Rumah, Pengelolaan Air Bersih Dusun Kece Berhasil Bangkit

 


MADIUN, POJOK KIRI - Peningkatan layanan air bersih di Dusun Kece, Desa Sumberbendo, menjadi bukti bahwa pengelolaan berbasis masyarakat mampu menjawab kebutuhan warga. Sistem distribusi yang dahulu masih mengandalkan penampungan air di tepi jalan, kini telah berkembang menjadi jaringan perpipaan yang menjangkau ratusan rumah melalui sistem meteran. Kamis (23/07/2026)

Pada masa awal, air dari sumber hanya dialirkan menuju bak-bak penampungan yang ditempatkan di sepanjang jalan. Warga kemudian mengambil air secara manual dari titik-titik tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ujar Salam kamituwo Dusun Kece

Sekitar tahun 1989, jaringan perpipaan mulai dibangun sebagai upaya meningkatkan pelayanan. Namun, seiring berjalannya waktu, fasilitas tersebut mengalami penurunan fungsi. Memasuki 2017 hingga 2020, pengelolaan praktis terhenti karena tidak adanya kepengurusan yang menangani operasional maupun perawatan jaringan.









Perubahan mulai terlihat pada 2021. Atas amanah yang diberikan Kepala Desa kepada Kepala Dusun Kece, pengelolaan sumber air kembali diaktifkan. Langkah pertama diawali dengan pembersihan saluran, perbaikan jaringan perpipaan, serta penanganan berbagai titik kebocoran yang selama bertahun-tahun mengurangi debit distribusi.

Setelah seluruh jalur diperbaiki, pasokan air kembali mengalir dengan lancar. Warga yang sebelumnya harus mengambil air di bak penampungan, sungai, maupun mata air sekitar permukiman, kini dapat menikmati layanan air bersih langsung dari rumah masing-masing.

Dalam dua tahun terakhir, sistem distribusi kembali ditingkatkan melalui penerapan meteran air. Tahap awal dilakukan sebagai uji coba di beberapa RT. Hasil evaluasi menunjukkan debit air tetap mencukupi sehingga pemasangan meteran diperluas secara bertahap hingga menjangkau delapan RT di Dusun Kece.

Meski belum seluruh pelanggan menggunakan meteran, jumlah pengguna terus meningkat. Dari sekitar 10 sambungan pada tahap awal, kini telah berkembang menjadi lebih dari 200 pelanggan bermeter. Sementara itu, total penerima layanan air bersih mencapai sekitar 300 kepala keluarga.

Tarif pemakaian ditetapkan sebesar Rp2.000 per meter kubik. Pendapatan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk operasional pengelolaan jaringan, tetapi juga memberikan kontribusi bagi Pendapatan Asli Desa (PADes). Selama dua tahun terakhir, hasil usaha pengelolaan air bersih mampu menyumbangkan sekitar Rp2 juta setiap tahun kepada pemerintah desa, sesuatu yang sebelumnya belum pernah terealisasi.

Untuk mendorong perluasan layanan, biaya pemasangan meteran turut diberikan subsidi sehingga beban masyarakat menjadi lebih ringan. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat pemasangan sambungan baru bagi warga yang hingga kini belum menggunakan sistem meteran.

Saat ini, pembayaran rekening air dilakukan melalui petugas pengelola yang dibentuk secara khusus. Penagihan dilaksanakan dengan mendatangi rumah pelanggan sesuai wilayah tugas masing-masing sehingga masyarakat tidak perlu datang ke kantor desa untuk melakukan pembayaran.

Keberhasilan tersebut menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan warga Dusun Kece. Jika dahulu kebutuhan air bersih hanya dapat dipenuhi dengan mengambil air dari penampungan umum, sungai, atau sumber mata air di sekitar lingkungan, kini seluruh kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi cukup dengan membuka keran di rumah masing-masing. Bagi masyarakat, perubahan itu bukan sekadar peningkatan layanan, melainkan peningkatan kualitas hidup yang telah lama dinantikan. ( soel/byk )

Komentar

Postingan Populer