Fenomena Parkir Bantaran Terjawab: Warga Pangongangan Madiun Bukti Nyata Gotong Royong dan Tanggung Jawab Sosial Tinggi
Madiun, Pojok Kiri — Tuduhan pungutan liar (pungli) di Taman Bantaran akhirnya terjawab. Petugas parkir yang berasal dari warga setempat justru menunjukkan inisiatif mulia dan semangat kebersamaan yang patut diapresiasi.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Pangongangan Kecamatan Manguharjo, Sutrisno, memberikan klarifikasi tegas terkait pengelolaan parkir yang sempat viral di media sosial TikTok.
Menanggapi video berisi kritik dari anggota DPRD Kota Madiun Fraksi Perindo, Dwi Jatmiko Agung Subroto (Kokok Patihan), Sutrisno menyambut baik masukan tersebut sebagai kritik yang konstruktif.
“Kritikan dari Pak Kokok Patihan saya anggap hal yang positif. Sebagai wakil rakyat, beliau diharapkan tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi terbaik bagi masyarakat,” ujar Sutrisno.
Ia menjelaskan bahwa Taman Bantaran pada 2017 hanya mendapatkan izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian PUPR untuk kegiatan konstruksi taman lalu lintas. Sementara pengelolaan parkir masih menjadi koordinasi dengan BBWS.
Inisiatif warga yang menginspirasi Menurut Sutrisno, seluruh petugas parkir yang dipimpin Martono adalah warga asli Kelurahan Pangongangan. Mereka bergerak secara swadaya karena prihatin melihat kondisi lingkungan yang kacau akibat lonjakan pengunjung Sunday Market.
“Tanpa penataan, jalanan menjadi macet dan semrawut. Warga kami berinisiatif menertibkan parkir demi kenyamanan bersama,” katanya.
Tarif parkir yang diterapkan sangat manusiawi, hanya Rp2.000 per sepeda motor — jauh di bawah ketentuan Perda retribusi parkir. Hal ini menunjukkan kesadaran tinggi warga untuk tidak memberatkan masyarakat.
Yang lebih membanggakan, pengelolaan hasil parkir dilakukan dengan penuh integritas. Dari total pemasukan, petugas hanya mengambil 60 persen, sementara 40 persen sisanya masuk kas bersama untuk pemeliharaan fasilitas taman, kegiatan sosial, dan kontribusi lingkungan melalui LPMK.
“Setiap bulan hasil tersebut diumumkan secara transparan dalam acara arisan. Saya sangat salut dengan dedikasi dan kejujuran mereka,” pungkas Sutrisno.
Fenomena parkir di Taman Bantaran ini menjadi teladan nyata bagaimana warga Pangongangan mampu mengatasi permasalahan sendiri dengan cara yang tertib, bertanggung jawab, dan penuh semangat gotong royong. Di tengah berbagai dinamika kota, inisiatif seperti ini patut menjadi inspirasi bagi daerah lain.(Yah)

Komentar
Posting Komentar